Gue Bukan Preman Lagi

Hai, nama gue Muhammad. Nama yang bagus bukan? Orang yang kenal gue akan berkata : “terlalu bagus…

Emang, mengingat perilaku gue yang begajulan, gue ngga pernah pantas diberi nama Muhammad. Nama itu terlalu suci. Gue sendiri sadar kalau gue ngga pantas bersanding dengan nama itu.

Tapi orang tua gue kasih nama itu, Muhammad.

Lalu apa yang terjadi?

Yak, gue punya nama panggilan yang lain. Yang lebih pantas dengan perilaku gue. Panggilan itu adalah Michael…jauh kan? Sudahlah, jangan banyak berpikir…kok bisa2nya ada anak dengan nama Muhammad tiba2 dipanggil Michael.

Itu adalah panggilan yang pantas buat gue : Michael.

Teman2 deket gue lebih sering panggil Miko. Nah ini lebih enak dikit di dengar, lebih pribumi, lebih indonesia.

Lo mau panggil apa terserah, Michael boleh…Miko juga boleh banget.

Tapi untuk dipanggil Muhammad, tunggu dulu deh.

Gue merasa belum pantas. :)

Jadi ceritanya gue adalah mantan preman. Laki2 begajulan yang kerjanya hanya nongkrong, main gitar, nyari cewek, gangguin orang dan teman, dan lain2 pokoknya yang ngga berguna.

Untungnya belum sampai ke kriminal. Belum sampai ketahuan maksudnya…

Tapi sekarang gue bukan preman lagi. Gue sudah bertaubat, gue mengenal banyak orang baik. Para ustadz, para aktivis di kampus tempat gue kuliah.

Dan mereka2lah yang membuat gue bertaubat. Termasuk kehadiran seorang perempuan bernama iffah. Nanti gue ceritain di cerita2 selanjutnya.

Tapi meski gue sudah berhenti jadi preman, bukan berarti semua gue tinggalin tanpa bekas. Masih ada, masih ada beberapa…

Diantaranya, gue masih punya anak buah yang loyal dan banyak jumlahnya. Kedua, kuliah gue ngga lulus gara2 hidup gue yang begajulan tadi. Sekarang gue nganggur. Mahasiswa bukan, pekerja bukan…

Kerja sih tapi ngga jelas. Dan uangnya ngga cukup banget buat beli makan ayam sekali sehari. Gimana mau bergizi?? Tubuh gue kerempeng abis.

Dan terakhir, bekas yang paling terasa di tubuh gue adalah tato yang memenuhi tubuh gue. Dari lengan, dada, punggung, perut. Ah…pokoknya semua tubuh gue bagian atas sudah bertato semua.

Dan tato2 itu ngga bisa dihapus…kebayang??

Preman taubat dengan tato sekujur tubuh? Wew ngga banget sih.

Akhirnya kemana2 gue pake baju koko. Ha ha ha, karena cuma baju koko-lah yang logis buat gue. Menutupi sekaligus tidak mencurigakan.

Coba kalau gue pake baju hem panjang??

Orang2 pasti curiga, gue kan ngga kerja. Gue kan pengangguran…

Oke, begitulah kehidupan gue.

Gue dulu preman, sekarang gue bertaubat. Gue punya guru ngaji yang bernama Ust. Hartono yang sampai sekarang selalu ngebimbing gue untuk menjadi Muhammad lagi.

Dan gue sekarang tinggal di masjid, sebagai takmir. Bukan2 apa2, gue ngga punya uang untuk kos…Ustad Hartono selalu memanggilku : lelaki ahlus suffah.

Ha ha ha ha

Gue cinta hidup gue.

PS : Cerita di atas cuma fiksi belaka, ditemukan di blog mbah di wordpress gratisan dulu, sekarang blog itu udah ngga keurus, udah kayak gudang aja. Cerita bersambung ini berjudul Lelaki Ahlus Suffah dan dalam kelanjutannya, cerbung ini tak pernah selesai. Di posting berikutnya akan mbah posting cerita ke-2 dan sekaligus cerita terakhir, karena setelah cerita ke-2 ini tidak ada kisah lanjutan.