Malam itu, saya tanpa sengaja ada di kamar belakang kosan kami. Bersama mbah putri, istri tercinta dan sofia, bayi kami yang masih berusia 1 bulan. Waktu itu aisyah sedang di desa bersama kakek neneknya, sedang panen durian.

Kejadian itu tidak disengaja, kami ngobrol ngalor ngidul. Cerita-cerita tentang masa lalu. Tentang anak-anak, tentang rencana-rencana, yang sudah terlaksana, yang gagal, juga yang akan kami ingin raih ke depannya.

Sampai juga cerita tentang rizki.

Mbah putri malam itu cerita banyak, ‘Mbah Jiwo ini orangnya males! Kalau bekerja atau berbisnis seenaknya sendiri. Kalau pas mood semangat, kalau pas ngga mood, sering males.’

‘Banyakan semangatnya apa banyakan malesnya?’, saya nanya asal.

‘Banyak malesnya’.

Jawaban Mbah Putri juga terkesan asal. Ringan sekali njawabnya. Itu tandanya dia tulus, dari hati yang paling dalam. Ngga direkayasa dulu jawabannya. Artinya emang mbah jiwo males.

Diujung percakapan itulah, Mbah Putri memberi 2 nasihat pada saya…

1. Mbah Jiwo harus tekun kalau berbisnis. 

Mbah putri bilang, mbah jiwo ini ilmunya banyak. Sering serba bisa, tapi jangan lupa harus fokus. Satu pekerjaan/bisnis ditekuni. Kalau tekun insyaallah semuanya bisa dikejar. Apalagi sekarang sudah terjun di Bisnis Online, Mbah Jiwo ilmunya sudah cukup disana, tapi harus ditekuni, diseriusi…

2. Mbah Jiwo harus menjaga spiritualitas.

Yang kedua, mbah putri ngingetkan agar terus jaga spiritualitas. Spiritualitas disini maksudnya adalah kedekatan dengan Tuhan, ibadah-ibadah kita, isi hati kita dlsb. Spiritualitas yang terjaga adalah sumber dari kesuksesan, begitu nasihatnya.

Sampai akhirnya malam itu berlalu, dan kami kehabisan pembicaraan. Sofia masih di sana, menjadi saksi percakapan malam itu. Percakapan yang, mesti diingat oleh setiap suami. Kepala keluarga dan penanggung beban paling berat dihadapanNya.

 

Kata Kunci Pencarian :